2025-03-29 | admin3

Kontroversi Film Bioskop “Mangku Pocong”

Film horor selalu menjadi genre yang menarik perhatian banyak penonton di Indonesia, yang dikenal dengan kecintaan masyarakat terhadap cerita-cerita mistis dan kepercayaan tradisional. Salah satu film yang sempat mencuri perhatian publik dan menuai kontroversi adalah “Mangku Pocong.” Dirilis pada tahun 2023, film ini membawa cerita yang menggabungkan unsur horor dan budaya lokal, tetapi juga memicu perdebatan di kalangan masyarakat, khususnya terkait dengan penyajian mitos dan kepercayaan masyarakat terhadap hantu pocong dalam budaya Indonesia.

Sinopsis Singkat “Mangku Pocong”

“Mangku Pocong” mengisahkan tentang seorang pria bernama Wira, yang merupakan seorang mangku (pemangku adat) di sebuah desa kecil. Ia diberikan tugas untuk membantu menyelesaikan masalah mistis yang terjadi di desa tersebut, yang https://drtellerman.com/ melibatkan sosok pocong, hantu yang terikat oleh kain kafan dan dikaitkan dengan kematian yang tidak tenang. Dalam perjalanannya, Wira terpaksa berhadapan dengan berbagai kejadian menyeramkan yang berhubungan dengan pocong, dan ia harus berjuang untuk menyelamatkan diri dan orang-orang yang ia cintai dari teror yang tak terduga.

Film ini menggunakan banyak elemen budaya lokal, baik dalam cerita maupun dalam visualisasinya, untuk menghadirkan ketegangan horor yang mendalam. Namun, justru karena penggambaran mitos pocong yang sangat kental, film ini menjadi sumber kontroversi yang cukup besar.

Kontroversi yang Muncul

Sejak pertama kali dirilis, “Mangku Pocong” memicu beragam reaksi dari masyarakat, baik yang mendukung maupun yang menentang. Beberapa poin kontroversial yang muncul antara lain:

  1. Penyajian Mitos Pocong yang Terlalu Jelas dan Menyeramkan Pocong merupakan salah satu hantu paling dikenal dalam mitologi Indonesia. Banyak yang merasa bahwa film ini menggambarkan pocong dengan cara yang terlalu menakutkan dan sensasional. Bagi sebagian orang, penggambaran hantu pocong yang sangat mendalam dalam film ini bisa menyebabkan ketakutan yang berlebihan, terutama di kalangan anak-anak dan orang-orang yang masih mempercayai cerita tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.

  2. Penggambaran Agama dan Kepercayaan “Mangku Pocong” juga menjadi sorotan karena melibatkan tema agama dan kepercayaan masyarakat, khususnya dalam konteks adat dan budaya lokal. Beberapa pihak merasa bahwa film ini terlalu mengangkat unsur mistik dan ritual keagamaan dengan cara yang kurang sensitif. Meskipun ada elemen budaya lokal yang dimasukkan, banyak yang berpendapat bahwa film ini bisa memperburuk kesalahpahaman tentang ajaran agama dan adat.

  3. Kritik Terhadap Penggunaan Elemen Tradisional Film ini membawa budaya dan kepercayaan lokal sebagai salah satu elemen utama dalam cerita. Namun, beberapa kritikus menyebut bahwa penggambaran yang terlalu sensasional dan berlebihan justru bisa merusak citra budaya Indonesia. Mereka menganggap bahwa elemen-elemen tradisional seperti hantu pocong, ritual adat, dan kepercayaan mistis sering kali dimanfaatkan hanya untuk menarik perhatian penonton tanpa memberikan penghormatan yang cukup pada nilai-nilai budaya tersebut.

  4. Penyebaran Ketakutan Berlebih Beberapa kalangan juga mengkritik film ini karena dianggap terlalu mendorong ketakutan yang berlebihan tentang hal-hal yang bersifat gaib. Sebagai film horor, tentu saja ketegangan dan ketakutan menjadi bagian utama, namun ada kekhawatiran bahwa film ini bisa memicu kecemasan yang tidak perlu di kalangan penonton, terutama mereka yang mudah terpengaruh dengan cerita-cerita seram tentang hantu.

Pendapat Para Pendukung

Meskipun banyak yang menentang, ada juga pihak-pihak yang mendukung keberadaan film “Mangku Pocong.” Mereka berpendapat bahwa film ini adalah bagian dari perkembangan industri perfilman Indonesia yang mencoba menggali kekayaan budaya lokal. Bagi mereka, film ini memberikan perspektif baru tentang kepercayaan masyarakat terhadap dunia gaib dan memperkenalkan elemen budaya Indonesia kepada dunia internasional melalui cerita yang menarik dan menghibur.

Beberapa penggemar horor Indonesia juga menganggap bahwa “Mangku Pocong” berhasil mengangkat unsur budaya lokal dengan cara yang orisinal. Penggambaran hantu pocong yang menyeramkan, serta penggunaan elemen mistik yang kuat, dianggap memberikan pengalaman horor yang berbeda dibandingkan film-film horor dari luar negeri. Mereka juga percaya bahwa film ini membuka peluang untuk menjadikan cerita-cerita lokal sebagai bahan cerita yang lebih sering dieksplorasi dalam industri perfilman tanah air.

Kritik dan Refleksi Sosial dalam Film

Lebih dari sekadar film horor, “Mangku Pocong” juga bisa dipandang sebagai sebuah kritik sosial terhadap kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Dalam film ini, ketakutan terhadap dunia gaib menjadi pusat cerita, yang menyiratkan bahwa masyarakat masih sangat kental dengan kepercayaan mistik. Ini membuka ruang untuk refleksi tentang bagaimana budaya dan agama dapat dipengaruhi oleh cerita-cerita horor, serta bagaimana kita perlu memperlakukan kepercayaan-kepercayaan tersebut dengan lebih bijaksana, terutama ketika mereka digunakan untuk tujuan komersial.

BACA JUGA DISINI: Film Bioskop Terbaru di Indonesia: Menyambut Ragam Cerita dan Inovasi

Share: Facebook Twitter Linkedin